|
|
Sejatinya judul di atas adalah penggalan kalimat dari kiriman SMS yang dikirim karib saya beberapa pekan silam. Diangkat ke dalam tulisan dan dijadikan sebuah judul bukan karena istimewanya si pengirim, melainkan karena deret kalimat di atas ternyata berisi makna yang dalam kalau saja kita mau adil untuk melirik hal kecil dan mau belajar banyak. Karib saya tentu sedang memprotes secara halus atas sikap saya yang suka uring-uringan ketika ditembak permasalahan. Lantas layu dan merasakan dunia seperti mau kiamat. Keindahan seolah sulit dijamah dan akhirnya menjadi pribadi yang kurang “ramah” terhadap keputusan Tuhan. Ya, kebahagiaan harus dicari! Saya mencoba merenung untuk beberap lama. Yang terpikir, tentu sumber kebahagiaan itu selalu yang berhubungan dengan kebendaan. Uang, rumah mewah, kendaraan, jabatan dan tentu isteri yang cantik kerap menjadi ukuran sebagai barometer kebahagiaan itu. Demi mencari kebahagiaan tadi dan bukti respon terhadap sang karib, saya melenggak pada sebuah jalan besar. Mampir di kedai makanan karena perut menagih janji minta diisi. Jika diabaikan, berarti akan sama saja saya membiarkan “sumber kebahagiaan itu untuk tidak mencarinya”. Di meja sudah terhidang semangkuk soto dan beberapa tusuk sate kambing. Minumnya tentu agak berbeda kali ini karena demi “mencari bahagia” tadi, segelas jus alpukat dengan kucuran susu coklat di atasnya. Alamaaaak! Mata saya jauh memandang ke arah jalan. Tangan, tanpa dikomando, sigap memasukan beberapa sendok makanan ke dalam mulut. Aktifitas tangan tiba-tiba terhenti ketika mata tertuju pada jalan ringkih seorang tua yang memanggul sapu. Jalannya lambat karena dipandu oleh sebuah tongkat dahan kayu. Seliweran mobil tak dihiraukannya. Kendati sudah terbiasa berjalan dengan mata gelap, tak urung saya merasa khawatir akan keselamatan jiwanya. Masih untung cuaca tak begitu panas hingga tubuhnya tak bermandikan keringat. Sekira 7 meter wajah lelaki sepuh itu sengaja saya hampiri, berusaha memapahnya agar tak terantuk batu dan tongkatnya tidak membentur deretan mobil yang banyak terparkir di pinggir jalan. Awalnya si Pak Tua menolak untuk dipapah, alasannya karena dia sudah terbiasa dengan kondisi seperti begitu. Semakin dekat, wangi tubuhnya memang tak beraroma. Jaket biru lusuh dengan sobek di beberapa bagian menusuk pengelihatan saya. Membangunkan pikiran saya yang kadang sering tak jemu untuk puas dan selalu mencari sesuatu yang lebih. Saya ternyata lebih beruntung… Saya berhasil meluruhkan hati si Pak Tua. Sesaat dia mau menurunkan barang bawaannya, sebanyak 53 ikat sapu lidi itu akhirnya mendarat di atas trotoar.

Terasa berat ketika saya mencoba menurunkannya. Pak Komod, demikian dia mengenalkan dirinya, memang pria perkasa di tengah matanya yang buta. Akhirnya saya sodori Pak Komod segelas kopi berikut sebungkus rokok kretek kendati awalnya dia menolak. Dia tak mau merepotkan dan memaksa saya menerima uang sebagai pengganti kopi dan rokok tadi. Hati saya sempat miris karena Pak Komod merasa kesulitan untuk memantik rokok dengan batang korek yang tak terlihat dengan desir angin yang cukup rapat. Berkali-kali rokok yang dibakar tak mau menyala. Empat batang korek yang dibakar sia-sia tak menghsilkan kepulan asap dari rokok Pak Komod. Saya berusaha menengahi, mengambil kretek dan membakarnya. Berhasil, dan sesaat saja sudah pindah ke mulut Pak Komod. “Umur saya sudah 60 tahun. Anak punya satu, itu pun entah di mana sekarang karena anak saya mengalami gangguan jiwa…,” demikian Pak Komod bercerita tentang kondisi keluarganya. “Sapu ini harganya empat ribu rupiah. Bapak punya untung lima ratus rupiah karena dari yang punya sapu harganya tiga ribu lima ratus,” sambungnya lagi. Penjual Sapu Lidi Penjual Sapu Lidi Pertemuan yang nyaris tak mau saya sudahi karena cermin hidup itu seolah ada pada diri seorang tukang sapu ini. Kendati matanya buta, dia tak mau melacurkan penderitaannya untuk menjadi seorang peminta-minta. Perjalanan Subang-Bandung sudah terbiasa ditempuh dengan mata yang buta. Jika malam sudah merayap, di sembarang tempat dia sandarkan tubuh kuyunya. Memejamkan mata dalam pikiran yang ngambang karena sapu lidinya yang baru separuh terjual. Sebuah persoalan klasik karena sapu lidi sudah tergeser kedudukannya oleh sapu plastik buatan pabrik. Saya pandang dalam-dalam tubuh ringkih itu ketika Pak Komod pamit untuk meneruskan berjualan. Tangannya sigap menyambut pikulan sapu lidi yang saya letakkan di atas pundaknya. Perhelatan yang menyentuh… Lepas Pak Komod dari pandangan, saya bergegas menuju warung. Soto dan sate sudah dingin, jus alpukat sudah mencair… Hari ini saya tak menemukan kenikmatan dari makanan tadi. Kenikmatan justeru saya dapat setelah hanya beberapa menit saja saya berhasil menemani Pak Komod. Dalam gelap yang dideritanya, dia mampu memberikan “ketenangan” kepada saya. Memberikan pencerahakan hakiki bahwa ternyata kebahagiaan itu tak selamanya terletak pada uang, rumah mewah, jabatan atau isteri yang cantik… Kebahagiaan kali ini diawalai dari semangkuk soto dingin dan segelas jus yang sudah mencair…!

Facebook
Twitter
Digg
Del.icio.us
Yahoo
Technorati
Newsvine
Googlize this
ada ko video camnya yg dibb gw, cuma YMnya ...
