|
|
Sesekali cara berlarinya tertatih-tatih. Ingus yang keluar dari mulutnya nyaris mengering dan membekas seperti sisa bekas gorengan. Hujan rintik yang mengguyur jalan beraspal sekitar Simpang Dago di jalan Juanda Bandung mengeluarkan kepulan yang mirip kabut putih. Cuaca baru saja panas, tapi kemudian hujan.
Langkah beberapa anak jalanan menyisakan bekas. Cipratan air membentur kerikil hingga bergerak dengan gelindingnya terbawa air. Sendal jepit berbeda warna yang dikenakan salah satu di antara mereka lincah bergerak, menerobos jalanan macet saat lampu merah berhenti.
Bait lagu dari sebuah grup band terkenal keluar dari mulut mungilnya. Kendati masih terdengatr pincang, uang receh dari para penumpang ikut nyemplung ke kaleng bekas minuman yang di genggamnya. Girang nian air mukanya. Kaleng rombeng bekas minuman itu telah terisi oleh beberapa koin. Lampu kuning menyala, sigap kakinya berlari sebelum lampu hijau menyala. Terlambat sedikit, tubuh mungilnya akan terserempet pinggir mobil mengkilat milik orang kaya itu.
Jam merangkak pada pukul 2 sore. Tanpa dikomando, sekumpulan anak-anak jalanan itu berlari. Berkumpul pada sebuah kelokan dekat tiang lampu merah yang warnanya sudah kabur. Polisi yang berjaga lebih asyik memainkan handphonenya ketimbang mengatur lalulintas...
Sore itu, saatnya mereka menunaikan tugas wajibnya, Belajar bersama yang tempatnya pada sebuah bangunan yang mirip stadion mini yang dibangun jaman Belanda. Ya, tempat itu adalah lokasi di mana pada setiap Ahad pertandingan adu domba digelar. Di sanalah mereka menimba ilmu. Gurunya, tentu para relawan yang konsen terhadap mereka. Beberapa di antaranya adalah mahasiswa dari beberapa Perguruan Tinggi terkenal. Mereka memang tak terurus...
Tak terurus, adalah kalimat yang tak mengenakan. Si obyek seolah sengaja dibiarkan telanjang kemanapun pergi. Tak berisi apapun ketika para pendatang ingin bertamu. Bisa pula, si obyek dibiarkan kerontang seolah tak berair manakala beberapa musafir tengah dahaga kehausan.
Adalah Pintunetter, SITE HEBRING KARYA ANAK JOMBANG, yang kerap jadi bahan pemikiran saya. Berkali-kali datang, tak juga ada teman yang mau menemani saya meski itu di atas "meja makan". Saya selalu sendiri, celingukan hingga tak jarang tertidur dengan sendirinya.
Saya tentu tak sedang membandingkan site ini dengan anak jalanan tadi. Tapi setidaknya kita pun tak jelek-jelek amat jika mau belajar dari mereka. Di tengah himpitan keterbatasan, mereka masih mau mengisi kepalanya dengan cara meluangkan waktu untuk belajar.
Bisa jadi kita juga patut belajar untuk dapat menghargai kehebatan si kreator site ini dengan cara yang lebih jenius dari mereka. Mengisi waktu luang utnuk menulis sebelum "lampu merah benar-benar menyala". Jika saja site ini bisa bicara, umpatan atau teriakannya akan sama: "jangan biarkan kami tak terurus...!"

Facebook
Twitter
Digg
Del.icio.us
Yahoo
Technorati
Newsvine
Googlize this
ada ko video camnya yg dibb gw, cuma YMnya ...

Komentar